Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Sedih Tentang Bulan


(Anyerilia, Bintang Timur Yang Mengembang)

JAMAN dahulu kala di peradapan Angkasa kuno, ketika Bintang-bintang masih sangat banyak bertebaran di langit, berkelip dengan beraneka warna. Terdapatlah Bulan yang saat itu sebagai ketua dari segala bangsa Bintang. Pada masa itu Bulan masih terlihat bundar dan tak pernah berubah bentuk.

Bulan ditugaskan oleh Dewa Angkasa untuk memimpin para Bintang menerangi Bumi kala malam hari. Seperti biasa Bulan menjalankan tugasnya dengan baik bersama milyaran Bintang yang terus berkelip di sepanjang malam, dan berakhir bila fajar telah tiba.

Pada suatu hari dalam perjalanan menuju peraduannya tanpa sengaja Bulan bertemu dengan Bintang timur, secercah Bintang mungil yang memiliki cahaya paling terang, bernama Anyerilia. Semenjak pertemuan itu Bulan merasa jatuh hati kepada Anyerilia, dan Anyerilia pun merasakan hal yang sama. Sampai pada suatu malam, keduanya selalu bertemu di setiap malam, bercerita tentang Galaksi, tentang Bumi dan juga tentang Meteorit.

Sayangnya kebahagiaan itu tak berangsur lama, saat salah satu Bintang beluku dari gugus Bintang barat bernama Porunga merasa cemburu. Dia iri dengan kebersamaan keduanya. Sebenarnya Porunga diam-diam mencintai Anyerilia, sayang sebelum maksud hatinya tersampai sudah didahului Bulan. Maka dia pun memikirkan cara agar keduanya dapat dipisahkan. Akhirnya Porunga menemukan cara licik, yaitu dengan menghasud Matahari sebagai pemimpin tertinggi dalam tatanan Tata Surya buat memisahkan Bulan dan Anyerilia. Dia mengarang cerita bahwa keduanya hanya bercanda dan tanpa menghiraukan tugasnya buat menyinari Bumi.

Matahari termakan dengan cerita Porunga yang mengada-ada. Matahari sebenarnya juga tidak begitu tahu keberadaan cerita itu, sebab Matahari bertugas menyinari Semesta di kala siang. Namun karena Porunga pandai bercerita, Matahari pun terpengaruh. Maka keesokan harinya berangkatlah Matahari menemui Dewa Angkasa untuk melapor. Mendengar cerita Matahari, murkalah Dewa Angkasa dan lantas memberikan hukuman kepada Bulan dengan cara memisahkannya dari Anyerilia.

Tepat pada saat itu, Anyeliria dipanggil Dewa Angkasa dan dipindah tugaskan ke gugusan Galaksi lain. Mendengar penuturan Dewa, hati Anyeliria sangat sedih, sebab ia harus berpisah dengan Bulan kekasihnya. Tapi Bintang mungil itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi peritah Dewa Angkasa.
Sampai akhirnya, Anyerilia pun pergi menunaikan tugas barunya. Bintang mungil itu memilih berangkat diam-diam tanpa sepengetahuan Bulan. Sebab ia tak sampai hati memberikan salam perpisahan kepada Bulan. Maka dengan diantar Dewa Angkasa, dengan sekejab Anyerilia telah tiba di Gugus Galaksi lain.

Malam pun tiba, Bulan sudah hadir di Langit dengan perasaan sukacita, sebab malam ini ia berniat memberikan kejutan untuk kekasihnya. Diam-diam ia datang dengan membawa sebuah bunga seranai langka, sekuntum bunga indah yang hanya mekar setiap setahun sekali, yang ia petik di atas pegunungan bersalju untuk dipersembahkan kepada Anyerilia.
Namun ketika sampai di Langit malam, Bulan tak mendapati kekasihnya berada di tempatnya. Dengan penuh tanda tanya dan rasa cemas dia mencari-cari kemanakah gerangan Anyeliria? Bulan berotasi ke sana-kemari dan bertanya kepada setiap Bintang, kepada setiap Planet, bahkan bertanya kepada Meteor, namun tak ada yang tahu di mana keberadaan Anyerilia.

Bulan sangat terpukul hatinya saat salah satu Bintang utara bernama Tamborin datang memberitahukan kalau Anyerilia telah pergi ke gugusan Galaksi lain untuk ditugaskan ke sana oleh Dewa Angkasa. Mendengar penuturan Bintang utara, Bulan menjadi sangat sedih. Seketika jatuhlah bunga yang dipegangnya. Bunga seranai itu jatuh menuju dataran Bumi dan seketika jadilah hutan yang sangat besar. Sementara air mata Bulan yang menetes berubah menjadi oase di tengah gurun pasir.

Semenjak itu cahaya Bulan berangsur meredup akibat kesedihan hatinya, kekuatan sinarnya menjadi berkurang. Adakalanya dalam kesedihanya, Bulan terlihat sering berubah bentuk. Kadang menjelma menjadi Bulan Separuh, Bulan Bungkuk dan Bulan Sabit. Namun adakalanya menjadi Bulan Purnama, dan di kala titik kerinduannya memuncak Bulan berubah bentuk menjadi Gerhaha Bulan. Itu adalah ekspresi luapan terbesar perasaannya, rasa kerinduan akan kekasih tercintanya yang tak bisa ditemuinya lagi.

Di akhir cerita sedih tentang cintanya, Bulan tetap menjalankan tugasnya menyinari Bumi bila malam telah turun, dan akan kembali ke peraduannya bila fajar mulai menyingsing. Namun ada kalanya sesekali Bulan berotasi di siang hari, sambil bertanya kepada setiap penghuni Angkasa yang ditemuinya tentang keberadaan kekasihnya, namun tak ada yang mengetahuinya.
Itulah sebabnya kenapa Bulan selalu terlihat sendiri dan kesepian. Bulan berharap pada suatu hari nanti ia dapat bertemu lagi dengan Anyerilia kekasihnya, guna melanjutkan kisah cintanya kembali.

Penulis bernama Dwi Lanang Galih Wicaksono, ia seorang Attachment Penulis Dongeng, Dan Monhettan. Aktif di dunia literasi sejak 2014 sampai sekarang. Karyanya yang sempat diterbitkan: Menggapai Mimpi Usang (Kumpulan Cerpen, 2018) Petualangan Jalan Pintas (Novel Fiksi, 2018) ) Dongeng Fabel Jilid 2 (Dongeng Antologi, 2019)


Nur Chafshoh Sa'idah
Nur Chafshoh Sa'idah Seorang ibu rumah tanggga kelahiran asal Gresik, domisii Sidoarjo. Saya adalah pekerja freelance writer, bisa juga mengelola website, dan penggemar jalan-jalan. Jika ingin bercengkrama atau kerjasama, bisa tinggalkan komentar atau melalui Pena Alfattah (FP Facebook)

Post a Comment for "Kisah Sedih Tentang Bulan"